Powered By Blogger

Rabu, 20 Oktober 2010

Prosedur Dan Efektifitas Pengembangan Media Pembelajaran Kitab Kuning Menggunakan Software Maktabah Syamilah (Studi Kasus di Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah Subang)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Kunci pembangunan masa mendatang bagi bangsa Indonesia adalah pendidikan. Sebab dengan pendidikan diharapkan setiap individu dapat meningkatkan kualitas keberadaannya dan mampu berpartisipasi dalam gerak pembangunan. Dengan pesatnya perkembangan dunia di era globalisasi ini, terutama pada bidang teknologi dan ilmu pengetahuan, maka pendidikan nasional juga harus terus-menerus dikembangkan se-irama dengan jaman. Pada umumnya sebuah lembaga pendidikan khususnya dunia pesantren salafiyah bertujuan pada bagaimana kehidupan manusia itu harus ditata, sesuai dengan nilai nilai kewajaran dan keadaban (civility). Semua orang pasti mempunyai harapan dan cita-cita bagaimana sebuah kehidupan yang baik. Karena itu pendidikan pesantren pada gilirannya berperan mempersiapkan setiap orang untuk berperilaku penuh keadaban (civility) dan peradaban (sains). Keadaban inilah yang secara praktis sangat dibutuhkan dalam setiap gerak dan perilaku.
Kitab kuning sebagaimana dimaklumi, merupakan warisan dari ulama-ulama salafushalihin yang isinya ajaran-ajaran Islam, seperti akidah, fiqh, tashawuf, gramatika dan lain sebagainya. Istilah kitab kuning pada dunia pesantren salafiyah sudah tidak asing lagi, karena para santri setiap hari selalu mengkajinya.
Pesantren salafiyah dewasa ini masih eksis mempertahankan pengajaran pengajaran kitab-kitab kuning dengan metode sorogan (individu) dan bandongan atau wetonan (kolektif), sebagaimana sistem pembelajaran tradisional yang khas dan unik ( Edi, dkk, 2007:1).



Pesantren-pesantren salafiyah, yang pada awalnya dalam proses KBM (kegiatan belajar mengajar) menggunakan metode telah disebutkan di atas dan juga ada istilah pasundan dengan ngalogati; yaitu santri membuat catatan pribadi yang merekam hasil belajarnya dari masyayikh. Tetapi dengan perubahan jaman, saat ini kebanyakan pesantren salafiyah telah memperbaharui diri karena pengaruh teknologi, seperi kelas multimedia dan begitupun kitab-kitabnya memakai perangkat software (maktabah syamilah).
Perlu kiranya, peneliti mendefinisikan secara umum arti dari teknologi sebagai media untuk pembelajaran yang dikutip dari CIT (Commission on Instruction Technology). Teknologi pembelajaran diartikan sebagai media yang lahir sebagai akibat revolusi komunikasi yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran di samping guru, buku teks, dan papan tulis. Bagian yang membentuk teknologi pembelajaran adalah televisi, film, OHP, komputer dan bagian perangkat keras maupun lunak lainnya.
Dalam Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 BAB I Pasal 1 ayat 1, bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Selama ini pendidikan di Indonesia masih menggunakan metode tradisional dan dikotomis (terjadi pemisahan) antara pendidikan yang berorientasi iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek).
Pendidikan seperti ini tidak memadai lagi untuk merespon perkembangan masyarakat yang sangat dinamis. Metode pendidikan yang harus diterapkan sekarang adalah dengan mengembangkan pendidikan yang integralistik yang memadukan antara iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (iptek). Semakin melemahnya bangsa ini pasca krisis moneter yang kita alami telah membuat Indonesia berada di urutan bawah dalam hal kualitas pendidikannya. Minimnya sarana dan prasarana pendukung menyebabkan.
Kembali pada pembahasan, bahwa sudah saatnya lembaga pondok pesantren yang sebagai subkultur bangsa ini harus bisa mencetak kader ulama yang ahli dalam iptek. Karena saat ini lembaga tersebut kurang di minati oleh masyarakat, tidak seperti tahun-tahun awal kemerdekaan bangsa Indonesia, sehingga perlu kiranya pesantren-pesantren salafiyah untuk menguasai media teknologi, agar bisa menarik minat masyarakat menitipkan putra-putrinya di pesantren salafiyah.
Maktabah Syamilah merupakan software portable (perangkat lunak yang mudah dibawa) yang di dalamnya berberibu macam judul kitab, sehingga mempermudah cocok untuk para santri salafiyah. Di samping itu, cara pengunaannya relatif mudah dan praktis. Namun demikian, para santri salafiyah khususnya Pondok pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah masih kesulitan cara penggunaan software tersebut. Walau bagaimanpun para kiai/dewan Asatidzah sebagai pemangku pesantren harus mengetahui bagaimana cara prosedur dan efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah. Situasi yang demikian ini, menggambarkan kesan para santri pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah masih ketinggalan dalam penggunaan media teknologi.
Berdasarkan fenomena-fenomena yang telah jelas di atas, maka penelitian ini mencoba mengkaji tentang prosedur dan efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Zaituniyah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka dapat peneliti kemukakan beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apa saja prosedur cara penggunaan media software Maktabah Syamilah untuk pembelajaran kitab kuning?
2. Adakah terdapat keefektifan penggunaan software Maktabah Syamilah di Pondok pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah?
3. Bagaimana pengemangan media pembelajaran kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah untuk para santri Pondok Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah?

C. Tujuan Masalah
Penelitian ini bertujuan untuk:
1) Mengetahui prosedur penggunaan software Maktabah Syamilah untuk pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah dalam.
2) Melihat keafektifitasan software Maktabah Syamilah untuk pembelajaran kitab kuning.
3) Melihat perkembangan para santri Pondok Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah dalam mempelajari kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah.

D. Manfaat penelitian

Penelitian ini, diharapkan bermanfaat untuk:
1. Secara teoritis kajian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam aspek ilmu pengetahuan, secara khusus di bidang ilmu pendidikan kitab kuning. Tentang prosedur dan efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Zaituniyah.
2. Secara praktis kajian ini dapat member sumbangan kepada para kiai dan para santri Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah sebagai pengembangan ilmu pengetahuan teknologi dan informasi.
3. Bagi Pesantren, khususnya PP. Plus Salafiyah Al-Zaituniyah, penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan evaluasi atas kelemahan-kelemahan yang ada dan selalu melakukan pengembangan-pengembangan demi mencapaian tujuan Pesantren Salafiyah yakni Pesantren yang mengembangkan teknologi.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Tentang Teori
1. Teori Prosedur Pengembangan Media
Kamus Besar Indonesia (2002) menjelaskan bahwa prosedur dapat diartikan menjadi dua pengertian, pertama adalah tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktifitas, kedua adalah metode langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan masalah. Sejauhmana prosedur Pengembangan Media ini dapat mengahantarkan para santri menjadi mampu dan sukses dalam pembelajaran kitab kuning di pesantren. Karena dengan Maktabah Syamilah proses belajar mengajar menjadi mudah. Namun kalangan pesantren terutama pesantren salaf, sementara ini masih sangat asing terhadap media ini.
Menurut Fatah, dkk. (2005) jika Prosedur Pengembangan media ingin efektif, maka harus mempunyai medan-medan pengembangan. Mereka membagi empat dimensi antara lain:
1. Dimensi SDM (Sumber Daya Manusia)
Untuk pengembangan pesantren dalam berbagai segi, yang harus ditempuh adalah pengembangan sumber daya manusia, pernyataaan ini tidak berarti bahwa SDM pesantren dewasa ini lemah, yang dimaksud di sini adalah pengembangan terus menerus serta kaderisasi. Jangan sampai suatu pesantren fathrah (berhenti) hanya karena meninggalnya kiyai yang biasa menjadi komandan sekaligus tumpuan kepercayaan umat maupun santri, sehingga ketika kiyai wafat maka pesantennya ikut mati juga.

2. Dimensi Fisik
Selanjutnya sebagai jawaban atas pencitraan buruk pesantren terutama pesantren salaf, yang sering dikesankan kumuh, ke depan pesantren harus menata fisik, mulai asrama santri, ruang kantor, gedung perpustakaan, dan lain-lain, sehingga menarik simpatik orang tua yang mau menitipkan anaknya di pesantren. Karena pencitraan tersebut kalangan pesantren merasa minder untuk mengembangkan media teknologi dan prosedur-prosedurnya.
3. Dimensi Metodologi
Sejalan dengan kemajuan jaman dan perkembangan teknologi, nampaknya bisa diajukan gagasan pesantren kejuruan, artinya kegiatan pesanten tetap seperti semula baik materi maupun metodologi, tapi ada tambahan kemahiran seperti khusus bagi santri misalkan komputer, pendidikan, pertanian, semacam jurusan di perguruan tinggi.
4. Dimensi Teknologi
Bagi pesantren, pengembangan masalah teknologi ini tidak berarti pada tataran pembuat, tapi lebih berupa pengenalan teknologi dan penggunannya. Bagaimana cara penggunakan (mengoperasikan) komputer, atau alat-alat bantu pembelajaran lainya, baik software maupun hardware.
2. Teori Efektifitas Pengembangan Media
Efektifitas Pengembangan Media merupakan salah satu yang diharapkan oleh sebuah lembaga pendidikan dalam hal ini pesantren yang sedang megembangakan media teknologi, namun pengembangan media akan menjadi efektif, jika didukung dengan prinsif dasar teknologi pendidikan. Sueharto, dkk. (2003) menyatakan bahwa dalam upaya pencerahan masalah-masalah belajar teknologi pendidikan menggunakan 3 (tiga) dasar, yaitu:
1. Berorientasi pada Si-belajar (learning oriented)
Teknologi pendidikan memandang si-belajar merupakan sentral kegiatan pendidikan. Si-belajar adalah subyek pendidikan dan bukan obyek pendidikan.
2. Pendekatan Sistem
Setiap usaha pemecahan masalah yang dilandasi oleh Teknologi Pendidikan, selalu dilandasi dengan penerapan prinsip pendidikan. Hal ini berarti masalah-masalah tersebut dipandang sebagai suatu sistem, atau dalam kaitan suatu sistem sehingga penanganan terhadap satu komponen harus mempertimbangkan komponen-komponen lainya, secara integratif.
3. Manfaat Sumber Belajar Secara Luas dan Maksimal
Dalam teknologi pendidikan pemecahan terhadap permasalahan pendidikan, khususnya masalah belajar, terwujud dalam bentuk sumber-sumber belajar (learning resources) baik sengaja dirancang untuk tujauan-tujauan belajar (by design) maupun yang tidak dirancang, tetapi dimanfaatkan untuk tujuan belajar disebut (by utilization).
Selain prinsif dasar teknologi pendidikan, yang harus menjadi dasar pengembangan media akan menjadi efektif yaitu pengembangan sistem pembelajaran dalam hal ini Soeharto dkk. Menjelaskan bahwa pengembangan sistem pembelajaran harus berfokus pada siswa, pendekatan sistem, dan pemanfaatan sumber belajar secara maksimal.
Dari penjelaskan di atas, dapat peneliti simpulkan mengenai efektifitas pengembangan media melalui dua prinsip, pertama teknologi pendidikan dan sistem pengembangan.
3. Teori Media Pembelajaran
Karti Soeharto, dkk, megutip dari Arif S. & Sadiman, dkk, menjelaskan bahwa menurut asal kata media berasal dari kata/bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan arti pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan sistem pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru selaku pendidik dan belajar dilakukan oleh peserta didik (http://teknik-mesin06.blogspot.com/2009/01/arti-dan-makna-pembelajaran_23.html, diakses pukul 14.15 wib. pada hari Sabtu 14 Agustus 2010 di Perpustakaan Al-Hikam).
Soeharto, dkk (2003) juga menjelaskan media pembelajaran mencakup enam unsur, antara lain:
(1) Pengertian Media Pembelajaran
Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada siswa.
(2) Belajar-Pembelajaran-Media
Proses belajar-pembelajaran memerlukan rangsangan dari faktor-faktor di luar diri siswa, rangsangan tersebut dari media (kaset audio, kaset video, film, dan sebagainya).
(3) Hubungan antara Teknologi Pendidikan dengan Media
Media adalah merupakan salah satu komponen dalam sumber belajar, dan sekaligus merupakan salah satu bentuk pemecahan belajar menurut teknologi pendidikan, dengan melalui suatu perancangan yang sistematis, Soeharto, dkk, mengutip dari penjelasan Yusufhadi Marioso, dkk., bahwa: “ membicarakan media tentu saja tak dapat terlepas dari membicarakan teknologi pendidikan. Penggunaan media dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan instruksional merupakan bagian dari teknologi pendidikan”.
(4) Hubungan antara Teknologi Pembelajaran dengan Media Pembelajaran
Hubungan keduanya adalah untuk memecahkan masalah belajar yang bertujuan dan terkontrol, teknologi pembelajaran menggunakan Komponen Sistem Pembelajaran. Salah satu komponen tersebut adalah media, yang terujud bahan dan peralatan.
(5) Kedudukan Media dalam Proses Belajar Mengajar
Kedudukan media tidak hanya sekedar alat bantu, tetapi sebagai bagian integral dalam proses belajar mengajar. Bahkan kalau dikaji lebih jauh, media tidak hanya sebagai penyalur pesan yang harus dikendalikan sepenuhnya oleh sumber berupa orang, tetapi dapat juga menggantikan sebagai tugas guru sebagi penyaji materi ajar. Seperti yang terlihat pada bagan berikut ini:






(6) Pungsi dan kegunaan Media dalam Kegiatan Belajar Mengajar
Fungsi media, dapat dilihat dari segi perkembangan media itu sendiri, yaitu:
1) pada mulanya sebagai alat pembantu mengajar
2) dengan masuknya audio visual instruction, media berfungsi memberikan pengalaman kongkrit kepada siswa
3) munculnya teori komunikasi menyebabkan media mempunyai fungsi sebagai alat penyalur pesan/informasi belajar
4) adanya pendekatan sistem dalam pembelajaran, media berfungsi sebagai bagian integral dalam program pembelajaran
5) pada akhirnya, media bukan saja sekedar berfungsi sebagai peraga bagi guru, tetapi pembawa informasi/pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa.
keguanaan media pembelajaran, antara lain:
1) memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis
2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, misalnya obyek yang terlalu kecil, dapat dibantu dengan proyektor mikro, film bingaki, film atau gambar
3) mengubah siswa yang tadinay bersifat pasif, dengan media bisa menimbulkan kegairahan belajar dan anak didik belajar secara individual menurut kemampuan dan kenyataan
(7) Prinsip-Prinsip Umum Penggunaan Media pembelajaran
a. Tidak ada satu metode dan media yang harus dipakai dengan meniadakan yang lain.
b. Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup untuk menggunakan media pembelajaran
c. Siswa harus dipersiapkan dan diperlukan sebagai peserta yang aktif
d. Hendaklah tidak menggunakan media pemebelajaran sebagai selingan atau hiburan, pengisi waktu, kecuali pengajarannya demikian.
Jadi, Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dari dua pengertian di atas, peneliti dapat mengartikan bahwa Media Pembelajaran merupakan proses timbal balik antara peserta didik dengan pendidik menggunakan alat sebagai penghubungnya, sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efesien.

B. Kerangka Konseptual/Kerangka Pemikiran
Berdasarkan deskripsi teoritis tentang prosedur dan efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah, maka dapat dibangun kerangka konseptual penelitian, sebagai berikut:
Kerangkan konseptual penelitian merupakan landasan berfikir bagi peneliti, yang digunakan sebagai pemandu penunjukan arah yang hendak dituju.
Secara ringkas, terdapat tiga komponen utama dalam kerangka konseptual ini, yang pertama prosedur pengembangan media dilihat dari perspektif teori Fatah, dkk , melalui empat dimensi pengembangan, yaitu (1) dimensi SDM (2) dimensi fisik (3) dimensi metodologi (4) dimensi teknologi.
Hasil temuan Sueharto, dkk (2003), menyatakan bahwa efektifitas pengembangan media berhasil dengan (tiga) dasar, (1) berorientasi pada si-belajar, (2) pendekatan sistem, (3) manfaat sumber belajar secara luas dan maksimal.
Soeharto, dkk (2003) juga menjelaskan media pembelajaran mencakup enam penejelasan (1) Pengertian Media Pembelajaran (2) Belajar-Pembelajaran-Media (3) Hubungan antara Teknologi Pendidikan dengan Media (4) Hubungan antara Teknologi Pembelajaran dengan Media Pembelajaran (5) Kedudukan Media dalam Proses Belajar Mengajar (6) Pungsi dan kegunaan Media dalam Kegiatan Belajar Mengajar (7) Prinsip-Prinsip Umum Penggunaan Media pembelajaran.
Dapat peneliti gambarkan dalam diagram hubungan antara variabel yang diteliti, sebagai berikut:
















C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan prosedur dan efektifitas pengembangan media pembelajaran kitab kuning menggunakan software Maktabah Syamilah akan menghasilkan output pesanten salafiyah yang berkualitas.
.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan eksperimen. Jadi dalam penelitian ini tidak menggunakan perlakuan terhadap penelitian melainkan mengkaji fakta-fakta yang telah terjadi dan pernah dilakukan oleh subjek penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan selama 1(satu) semester di Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah pada pembelajaran kitab kuning. Penggunaan software Makatabah Syamilah ini akan dikaji untuk mengetahui prosedur dan efektifitas media ini pada pembelajaran kitab kuning.

B. Waktu/Tempat
Sesuai dengan judul diatas, maka penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 4 Rabi’ul Awal-29 Sya’ban 1431 H. atau bertepatan dengan 20 Maret- 10 Agustus 2010 M. Adapun tempat penelitian di Pondok Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah Jl. Blanakan Dsn. Sidamulya Rt. 04/06 Ds. Ciasem Baru Kec. Ciasem Kab. Subang Jawa Barat.
C. Populasi Penelitian/Sample
Populasi penelitian ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Al-Zaituniyah Subang, sedangkan sample penelitian ini adalah kelas 2 Wustha (Menengah Pertama) dan 2 ‘Ulya (Menengah Atas). Penelitian ini dilakukan 1 (satu) semester /enam bulan pada tahun 2010.
D. Instrumen Penelitian
Agar data yang terkumpul dapat dianalisis dengan baik dan menghasilkan simpulan yang benar, data yang dikumpulkan harus relevan dengan masalah yang diteliti. Untuk itu, diperlukan alat pengumpul data yang tepat. Data diperlukan untuk menjawab masalah penelitian atau menguji hipotesis yang sudah dirumuskan Penelitian kauntitatif menggunakan cara antara lain: interview terstruktur, dan pelatiahan yang diberikan oleh pakar dalam bidang IT (integrated Tecnologi) Maktabah Syamilah. Tiap-tiap alat pengumpul data memiliki kelebihan disamping kelemahannya, tetapi yang paling penting adalah prosedur dan efektifitas pengembangan software Maktabah Syamilah tersebut sesuai dengan hasil pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah.

No Variabel Indikator Teknik Pengumpulan Data
01 Prosedur Pengembangan Media 1. Pengenalan IT
2. Pelatihan/training
3. Ketelatenan para santri 1. Wawancara
2. Observasi
3. Observasi
02 Efektifitas Pengemabangan Media 1. Tempat pembelajaran yang kondusif
2. Fasilitas IT yang memadai
3. Keaktifan para santri dalam pemebelajaran 1. Observasi
2. Observasi
3. Observasi
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpul data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperluas. Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. (Nazir, 1985).
Metode pengumpulan data merupakan salah satu metode atau cara yang dilakukan peneliti untuk memperoleh keterangan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
a. Wawancara (interview)
Wawancara adalah mengemukakan informasi secara lisan dalam hubungan tatap muka. Jadi responden tidak perlu menuliskan jawabannya. (Faisal, 1982).
b. Pengamatan/observasi
Pengumulan data dengan observasi atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. (Nazir, 1985).
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pengamatan secara sistematis terhadap gejala yang tampak dalam penelitian. Dalam penelitian ini peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan terhadap objek penelitian di tempat penelitian yang dilakukan. Adapun yang diobservasi dalam penelitian ini adalah prosedur dan efektifitas pengembangan media software Maktabah Syamilah untuk pembelajaran kitab kuning di Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah Ds. Ciasem Baru.




F. Teknis Analisis Data
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam metode ilmiah, karena dengan analisis, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. (Nazir, 1985).
Teknik analisis data non statistik akan peneliti gunakan dalam proses penganalisisan data, karena disamping data yang ingin diperoleh adalah berupa deskripsi dari sumber data, dan tujuan peneliti adalah mengeksplorasi sehingga selanjutnya peneliti akan mengemukakan setiap fakta yang ditemukan di lapangan mengenali prosedur dan efektifitas Media Pembelajaran Kitab Kuning Menggunakan Software Maktabah Syamilah Di Pesantren Plus Salafiyah Al-Zaituniyah dan menginformasikan dengan landasan teori yang ada sesuai dengan lingkungan kondisi di Pesantren Subang ini.








DAFTAR PUSTAKA
Abdul Fatah, Rohadi, dkk. 2005. Rekonstruksi Pesantren Masa Depan. Jakarta: Listafariska Putra.
Edi, Toto, dkk. 2007. Ensiklopedi kitab Kuning. Pamulang: Aulia Press.
Faisal, Sanapiah, 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Nazir, Moh. 1985. Metode Penelitan. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Soeharto, Karti, dkk. 2003. Teknologi Pembelajaran. Surabaya: Surabaya Intellectual Club.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka,ed. 3,). Cet. II.
Undang-Undang Republik Indonesia. No. 20 Th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Cemerlang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar